/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-3/ani340.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-3/ani340.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */ One Piece - Tony Tony Chopper

Sabtu, 03 Oktober 2015

Pernyataan cinta



Ku memandang wajah polos di hadapanku
Menghiasi suasana tenang tak bergeming
Dentuman jantung mulai berdetak
Dengan jelasnya terdengar oleh diriku
Kini aku pun mulai terbata-bata dalam berkata
Tak seperti diriku yang biasanya

Hembusan angin pun
Tak dapat menahan keringat
Yang terus mengalir tanpa hentinya
Keluar dari tubuh ini

Kini kau mulai terpaku dalam diam
Setelah kata itu mulai terucap
Dari bibir ini

Kini jawaban ada padamu
Ku hanya bisa pasrah

Menerima jawaban dari dirimu seorang 

Jumat, 25 September 2015

Cinta Terlarang

Berharap mimpi menjadi nyata
Rasa di dalam dada
Tak dapat ku tahan tuk selamanya
Cinta terlarang ini
Begitu membingungkan diriku
Ku tahu ini salah
Ku tahu kita tak seharusnya bersama
Namun aku begitu mencintaimu
Sulit ku manahan gelora ini
Walau ku coba
Tuk menghentikannya
Malah rasa sakit yang ku terima
Tuhan ...
Mengapa kau menciptakanku seperti ini
Mengapa kau ciptakan
Rasa yang terlarang ini
Ku tahu kau memiliki maksud
Di balik ini semua
Tapi mengapa harus rasa yang seperti ini
Ku hanya dapat berserah diri kepadamu
Dan membiarkan waktu

Menjawab semua pertanyaan dariku ini 

Kebodohanku


Ku raba jari jemari tanganmu

Ku pandang wajah tegas dirimu

Ku peluk erat tubuh kekar dirimu

Ku tak ingin kau pergi meninggalkanku

Ku tak ingin kau menghilang dalam hidupku

Ku tak mampu menjalani hidup tanpa dirimu

Namun apalah dayaku tuk menghentikanmu

Ku kini hanya dapat menangis

Meratapi kesalahan yang telah ku perbuat

Ku terus terbayang dirimu dalam kalbuku

Ku menatap kenangan kita di masa lalu

Ku tak mampu menanggung semua ini

Kesalahan bodoh yang ku perbuat sendiri 

Rabu, 23 September 2015

Inilah Nasibku



Kebahagiaan hanya sebuah ilusi
Kesedihan adalah kenyataan
Tangisan  dan kesuraman
Terus menghiasi hariku
Sedangkan bercanda dan tawa
Hampir tak pernah hadir
Mengunjungi hidupku
Ku ingin merasakan
Indahnya sebuah kebahagiaan
Namun apakah itu mungkin
Dengan diriku yang tak sempurna ini
Ku rasa itu tak mungkin terjadi
Ku hanya bisa meratapi nasib
Di balik sebuah jendela
Yang mengurungku

Dari dunia di luar sana 

Cinta Terpendam Chapter 4




          Dari kejauhan aku telah dapat melihat laras, dia terlihat cantik dengan jilbab, baju dan celana training yang di pakainya dengan warna yang senada. Wajahnya begitu segar dan menarik walau tanpa polesan make up sedikit pun. Terasa hilang semua keberanian yang telah kumiliki di gantikan oleh perasaan gugup yang tiada tara, jantung terasa berdebar dengan kencangnya hingga tak mampu ku mengaturnya.
“  p ... pagi laras “ aku dengan gugupnya mengeluarkan kata-kata itu. “ pagi juga bang, ayo bang kita mulai jalannya “ laras menunjukkan senyum manisnya lalu mulai berjalan di depanku yang dari tadi hanya mematung memandanginya. Acara marathon pun kami jalani dengan penuh keceriaan dengan candaannya maupun dariku, bukan hanya itu kami terkadang juga membahas beberapa anime yang menurut kami menarik karena kami adalah sesama otaku. Rasa gugup yang sebelumnya sempat ku rasakan pun perlahan mulai menghilang dan berganti dengan senyuman yang terus saja menghiasi wajahku ini.

          “ bang norland, kita berhenti dulu yah sebentar. Laras capek banget nih “ aku memandang laras yang wajahnya di basahi oleh keringatnya dan nafasnya yang aga tidak teratur. “ ya laras, abang juga dah capek. Kamu lap dulu keringatnya pakai ini “ aku memberikannya sehelai kain bersih yang sejak tadi belum ku pakai. “ kamu tunggu di sini yah, abang cari minum dulu “ aku pun lalu berlari menjauh meninggalkannya. Tak lama aku kembali dengan dua buah botol minuman di kedua tanganku dan ini lah saatnya aku harus mengatakan kepadanya mengenai perasaanku.

          “ laras ini minumnya “ aku menyerahkan salah satu botol itu kepadanya dan duduk di sampingnya yang sejak tadi menungguku. “ makasih bang “ senyuman manisnya mulai membuatku gugup kembali. Namun aku harus mengatakannya sebelum terlambat, “ laras abang mau ngomong sesuatu sama kamu “ ia langsung memandangku dengan tatapan innocentnya. “ mau ngomong apa bang ? “ ia terus memandangku dengan tatapan yang sama. “ ehm ... abang suka sama laras, laras mau gak jadi pacar abang “ laras yang sedang minum langsung tersedak dan menyemburkan air yang ada di mulutnya ke depan. “ kamu gak papa laras “ aku mengelus pundaknya karena dia masih agak terbatuk-batuk “ gak papa kok bang “ laras lalu mulai diam dan terlihat seperti sedang berpikir, namun dia terlihat tersenyum untuk beberapa saat lalu mulai serius kembali.

          Aku yang meihat senyuman yang walau hanya sekilas itu pun mulai optimis. Karena aku pasti akan mendapatkan laras, namun “ maaf bang aku, aku gak bisa ... “ laras mulai bangkit dari tempat duduknya dan mulai berlari sambil menunduk, aku yang mendengar itu pun mulai merasa sedih dan seakan air mata mulai ingin mengalir saja. Aku harus di tolak oleh dua orang wanita yang sangat aku suka, semua itu begitu menyakitkan bagiku. Air mata mulai mengalir dari kelopak mata ini dengan perlahan-lahan seakan dunia mulai melambat mendengar apa yang aku dengar barusan.

          Sebuah suara perlahan-lahan mulai menyadarkanku yang sejak tadi terlarut dalam tangisan yang mengalihkan dunia tuk sementara, “ bang ... bang ... “ kata itu perlahan mulai menyadarkanku dari tangisan ini.  Aku mencari asal suara itu dan ku temukan sumbernya yang saat ini berada tepat di depanku, walau agak jauh di depanku dia melambai-lambaikan tangannya. Laras tengah berdiri dan dapat ku lihat dia tersenyum sambil melambaikan tangannya, “ bang aku juga suka sama abang, kalau abang mau jadi pacar aku coba tangkap aku kalau bisa “ laras berteriak semampunya dengan suaranya yang memang gak terlalu besar dan sebelum berlari laras mengejekku terlebih dahulu.

          Aku tersenyum mendengar perkataannya dan mulai bangkit berdiri mengejar laras yang belum begitu jauh berlari, akhirnya aku meraih tangannya dan dia mulai berbalik menghadapku sambil tertawa yang juga ku sambut dengan tawa. “ akhirnya abang dapat kamu dek, jangan harap bisa lari lagi yah “ aku tetap memegang tangannya dengan pelan agar tidak menyakitinya. “ iya ya, tapi tadi abang kenapa nangis. Jelek tau hahaha “ laras tertawa melihatku yang masih menyisahkan air mata di ujung kelopak mataku dan mata yang memerah.  “ ya ini semua gara-gara kamu yang usil banget sama abang “ lalu aku pun mengelus-elus kepala yang kini menjadi pacarku itu.

Bersambung ...
Gimana ceritanya ...
Tolong tinggalkan komennya yah

Terima kasih para pembaca J

Sabtu, 19 September 2015

Cinta terpendam Chapter 3



          Sudah sebulan lamanya aku dan citra tak saling bertegur sapa, kali ini bukanlah aku yang menghindarinya namun citra sendirilah yang menjauhiku. Aku sih kembali dengan sifatku yang dulu sesuai dengan permintaannya dan perasaanku kepadanya pun kian memudar dan hampir tak berbekas. Tiada lagi perasaan terluka ketika citra berjalan sambil bergandengan tangan dengan pacarnya, malah aku mengresponnya dengan sebuah senyuman yang tulus bukanlah sebuah topeng seperti karakter sai di anime naruto.

          Aku sedang berjalan di lorong sekolah yang sepi, tak meninggalkan keributan para siswa dan siswi. Aku tadi di panggil oleh bu gia mengenai sesuatu hal dan di sini lah aku sekarang berjalan menuju parkiran motor seorang diri dengan suasana yang sepi karena para murid yang lain telah pergi meninggalkan sekolah. Di saat aku ingin keluar gerbang sekolah, ku melihat seorang siswi yang aku tahu dia adalah salah satu juniorku. “ kok belum pulang, rumahnya di mana ?  “ dia memalingkan wajahnya dari hp yang sejak tadi di pandanginya. “ lagi nunggu jemputan bang,rumah aku di dekat  jl. Pattimura bang “ wajahnya terlihat cantik dengan jilbab yang menghiasi kepalanya itu, di tambah lagi dengan suaranya yang begitu lembut terucap dari bibirnya. “ rumahku juga di jl. Pattimura kalau begitu mari aku antar pulang sekalian ” ajakku kepadanya “ maaf bang gak bisa, ibu sudah mau jemput kok “  ia menolaknya dengan sopan. Aku memang baru pertama kali bisa sedekat ini dengan seseorang yang baru aku kenal, namanya laras kusumawati.  Aku mengetahuinya ketika kami mengobrol bersama sambil menunggu ibunya menjemput karena dia menolak ajakanku.

           Laras wajahnya terus tergambar jelas dalam benakku sejak berkenalan dengannya tadi, untaian nada yang terus berputar dari hpku memenuhi kamarku yang tak begitu besar ini. Wajahnya yang sejak tadi menari-nari dalam benakku seakan menghilang ketika ibu mengetuk pintu kamarku “ Norland pratama, mau sampai jam berapa kamu makannya. Ayo makan nanti kamu sakit loh “ ibu mulai menarikku keluar kamar ketika aku membuka pintu. “ ya bu, ini juga mau makan “ aku pun berjalan dengan malas-malasan sambil di dorong oleh ibu dari belakang.

           Saat jam istirahat aku secara tidak sengaja bertemu dengannya kembali di perpusatakaan, laras sedang memilih buku di bagian komik dan buku fiksi lainnya. “ lagi cari buku apa nih ? “ laras wajahnya mengarah kepadaku dari aktivitasnya yang sedang mencari buku tadi “ eh bang norland, ini lagi cari komik sama novel yang bagus bang “ laras menelusuri setiap buku mencari buku yang menarik menurutnya “ kamu juga suka anime yah, laras “ dia kembali menatapku dan membiarkan sesaat novel yang baru saja di lihatnya tadi. “ ya bang, abang juga suka ? “ pertanyaan itu ku jawab dengan anggukan.

           Kami sekarang sudah kenal cukup lama sejak kejadian itu. Aku dan laras sekarang tak hanya dapat mengobrol di sekolah saja namun kami juga sering smsan walau tak pernah telfonan karena kami sama-sama tak menyukainya.

To : laras kusumawati
Laras besok pagi ada acara ?

From : laras kusumawati
Gak ada bang, memangnya kenapa ?

To : laras kusumawati
Besok aku mau ajak kamu, marathon kamu mau ?

From : laras kusumawati
Boleh bang, nanti abang jemput aja yah di rumah

To : laras kusumawati
Ok, besok abang jemput yah. Oyasuminasai laras

From : laras kusumawati
Oyasuminasai bang

          Aku mulai mengumpulkan keberanianku, aku tak ingin lagi menunggu lama. Seperti dulu yang sempat terjadi dengan citra, walau laras akan menjauhiku. Aku akan menerimanya apa adanya, karena itulah pilihannya. Tapi aku harus optimis dan berpikir positif karena dengan berpikir positif hal-hal positif akan datang kepada kita. Aku harus yakin dan berpikir positif untuk besok, semangat.


Bersambung ...

Senin, 14 September 2015

Cinta Terpendam chapter 2




          Aku dan citra semakin dekat setelah hari itu dan kini kami sedang mengerjakan tugas yang di berikan oleh pak boy. Kami tidak hanya berdua saja, ada juga mira yang merupakan sahabatnya citra. Mira termasuk orang yang biasa-biasa saja di kelas, nilainya pun hampir selalu standar namun ia sangat lemah dalam pelajaran biologi. Walaupun aku juga kurang dalam pelajaran biologi namun nilaiku selalu standar tak pernah rendah maupun tinggi. Jadi wajar saja ketika kami belajar saat ini, mira hanya bermain-main dengan handphonenya sambil terkadang ketawa-ketawa sendiri. Membuat aku dan citra bingung melihatnya.

          “ hei mir, ngapa sih senyum-senyum sendiri dari tadi bukannya tolongin mikir malah asik sendiri “ citra agak sedikit kesal dengan tingkah sahabatnya itu, aku hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka yang terlihat kekanak-kanakan dengan citra yang berusaha merebut handphone mira namun gagal. “ada deh, ini rahasia tau dan tentang soal-soal itu ko kan tau cit. Aku paling anti sama namannya biologi, apalagi gurunya macam pak boy yang nyebelin itu “ mira mencoba membela dirinya sendiri.

          Saat aku sedang membaca buku di taman sekolah, aku melihat citra bersama seseorang. Citra dengan seseorang, dia bukan mira karena itu adalah seorang cowok yang tak aku kenal. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan dan tertawa bersama, terasa sakit hati ini rasanya melihat mereka. Aku memang bukan siapa-siapanya citra hanya sekedar teman, namun aku sangat mencintainya sejak melihatnya ketika ospek dulu. aku ingat dulu ketika ospek ia terlihat cantik dengan rambutnya yang tergerai lurus dengan jepit rambut berwarna pink di sisi kanannya yang menyangga poninya agar tak menutupi wajahnya, ia juga sering di goda oleh para senior. Namun mengapa sekarang aku merasa berbeda, aku merasa sakit dan marah melihat citra berjalan sambil bergandengan tangan dengan cowok itu. Apakah rasa itu semakin tumbuh sehingga membuat rasa ini juga semakin kuat untuk memilikinya, kurasa itulah yang terjadi denganku saat ini.

          Aku sejak melihat kejadian itu, aku terus mengabaikan pertanyaan dan sapaan yang di tujukan kepadaku dan apabila menjawab hanya dengan jawaban yang seperlunya saja seperti ya, tidak, jangan ganggu aku lagi sibuk. Padahal kalau di lihat sih aku benar-benar gak sibuk sama sekali hanya aku saja yang mencoba mencari kesibukan sendiri mungkin aku masih merasa terlalu sakit dan marah kepadanya.

          Sudah seminggu ini aku dan citra tidak bertegur sapa karena aku yang selalu menghindarinya, namun aku merasa kangen dengannya tapi aku juga masih merasa marah dengannya. Apa yang sebenarnya terjadi denganku, aku baru pertama kali merasakan hal ini selama hidupku yang sudah berusia 17 tahun.  Mira pun bingung melihat tingkah kami berdua, namun ia hanya dapat diam dalam kehampaan ini. Aku kangen bahkan sangat kangen dengan citra dengan candaannya, saat-saat kita belajar bersama, tawanya bahkan ketika dia cemberut yang menurutku itu sangatlah lucu sekali.
Aku hari ini akan mencoba mengungkapkan perasaanku kepadanya, di sinillah kami sekarang. Di belakang mushola sekolah. “ land, apa yang mau kamu bicarakan dan mengapa kamu belakangan ini selalu menghidari aku ? “ citra terlihat serius sejak tadi. “ aku ... aku ... “ aku gugup sekaligus takut ketika ingin mengatakannya. “ kamu ngapa, land “ citra sekarang tatapannya mulai berubah menjadi seperti rasa khawatir. “ aku suka sama kamu citra, aku gak suka lihat kamu jalan dengan cowok lain apalagi dengan bergandengan tangan seperti kemarin “ citra seperti terlihat terkejut dengan ucapanku tadi. “ aku gak bisa norland, aku sudah punya pacar dan aku sangat sayang dengan dia dan tentang bergandengan tangan itu. dia pacar aku namanya putra, jadi aku mohon land. Kita sebaiknya kembali seperti biasa saja dan menganggap ini semua tak pernah terjadi. “ aku hanya bisa menunduk mendengar jawabannya itu. “ tapi citraaa... “ sebelum aku menyelesaikannya namun sudah di potong oleh citra. “ maaf land dan aku mohon kembalilah seperti biasa lagi “ . akhirnya citra pergi meninggalkan aku yang masih mematung.

Gimana para pengunjung ceritanya, bagus gak
Mohon tinggalkan komennya yah
Sebuah kritikan dapat membuat seseorang mengoreksi kesalahannya
Tunggu chapter selanjutnya yah

Sampai ketemu lagi